Di kolam kecil dekat sebuah pertanian, hiduplah seekor katak hijau. Si katak menikmati hari – harinya dengan berenang, bernyanyi, atau duduk diatas daun teratai sambil makan nyamuk.
Hingga suatu hari seekor burung hantu hinggap di dahan pohan dekat kolam. Si katak menyapa burung hantu dan mengajaknya bermain, tapi burung hantu menolaknya. Kata si burung hantu, “Kegiatanmu tampaknya memang sangat mengasyikkan! Tapi apa gunanya? Kau harus mencari kegiatan yang lebih berguna! Seperti aku memburu tikus yang menyusahkan petani…” Si katak tertegun mendengar hal itu. Lalu si katak bergumam, “Ah, benar juga apa kata si burung hantu. Aku ini makhluk tak berguna. Yang kutahu hanya berenang! Aku harus mencari kegiatan berguna…”
Maka pergilah si katak ke kandang ayam. Ia melihat ayam sedang duduk diatas tumpukan jerami. “Apa yang sedang kau lakukan wahai Ayam?” tamya si Katak. “Aku baru saja bertelur. Sekarang aku sedang mengerami telur – telurku dan tuanku si Petani akan sangat menyukainya!” jawab si Ayam. Katak mengangguk – angguk lalu berkata, “Kalau begitu aku juga mau mengerami telur!” “Wah, kau tentu saja harus bertelur dulu!” Jawab si Ayam. Katak menggeleng, “Aku tidak bisa bertelur…”
Pergilah si Katak ke kandang sapi, dan melihat petani sedang memerah susu. “Wahai sapi, apa yang kaulakukan?” Tanya si katak. “Petani sedang memerah susuku, kawan. Aku makan rumput dan menghasilkan susu, dan susuku sangat berguna untuk manusia,” jawab si sapi. “Kalau begitu akuakan makan rumput dan menghasilkan susu juga!” sahut si katak. Maka si katak mendekati tumpukan rumput kering dan mencoba memakannya. Baru gigitan pertama, si katak sudah memutahkan kembali rumput tersebut. “Oh, rasanya sangat menjijikkan! Aku tidak bisa makan rumput…” “Kalau begitu kau tidak bisa menhasilkan susu,” jawab sapi.
Katak melangkah gontai kembali ke kolamnya. “Aku makhluk tak berguna, aku bodoh dan buruk rupa…” tangisnya sedih. Ia duduk diatas daun teratai dan hanya makan sedikit sekali nyamuk.
Hingga tiba – tiba seraut wajah mungil muncul di depannya! Ternyata putri si petani. Gadis kecil itu tersenyum melihat si Katak, “Ah, rupanya disitulah kau berada. Aku suka sekali mendengarkan suaramu, membuat hatiku ringan saat aku sedih. Dan terima kasih karena telah menangkap nyamuk – nyamuk yang mengganggu tidurku!” ucap gadis kecil tersebut.
Katak pun tersadar dari kesedihannya. Ia bukanlah makhluk tak berguna. Ia adalah katak, dan ia berguna sebagai seekor katak!
Namanya Aini. Sosok kecil yang baru berumur delapan bulan itu tengah berdiri di dalam box tempat tidurnya. Jemarinya yang kecil memegang erat pinggiran box, berusaha untuk tetap berdiri di atas kakinya yang belum kokoh. Ia tengah menatap Jane. Dan ketika Jane tersenyum padanya, wajah mungil nan manis itu langsung balas tersenyum. Saat itulah Jane jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada pemilik mata polos dan indah itu.
Aini tumbuh menjadi gadis muda yang ceria dan bahagia. Bundanya adalah seorang wanita yang penuh dengan kasih sayang dan kelembutan. Namun, pernah juga sekali ia menanyakan mengapa ia tak memiliki seorang Ayah. Bundanya berkata bahwa sang Ayah adalah seorang tentara yang telah meninggal dalam tugas. Sejak itu, Aini tak pernah lagi membicarakan topik tersebut, karena ia tak mau bundanya sedih. Pastilah sangat menyakitkan ditinggal sang kekasih, pikirnya.
Sampai suatu hari, ketika ia bertengkar dengan Dita, sepupunya jauhnya, yang juga sekelas dengannya. Persoalan sepele, namun tampaknya Dita begitu marah. Dita kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Aini shock. Sesuatu yang tak ingin dipercayainya namun sekaligus membuat jantungnya berdetak begitu cepat. Ia langsung berlari ke kantor bundanya dan memaksa untuk masuk.
Saat itu jane sedang menemui seorang klien, namun karena mendengar dari Riris sekretarisnya bahwa Aini ingin bertemu dengannya untuk sebuah urusan mendesak, Jane minta diri sejenak dengan kliennya dan menemui Aini. Baginya, putrinya adalah yang terpenting dari segalanya.
"Ada apa, Nak?"
Wajah Aini merah dan tegang. Tampak menahan kemarahan.
"Dita bilang aku anak angkat."
Jane terhenyak kaget. Ia baru akan duduk di kursinya saat itu. Gerakannya langsung terhenti.
"Dita bilang aku tak punya Ayah. Ayahku yang Bunda bilang telah mati dalam tugas itu adalah karangan Bunda semata. Aku ini dipungut dari panti asuhan."
Wajah Jane memucat. Jantungnya seakan terhenti saat itu juga.
"Dita bilang Bunda berbohong padaku tentang semuanya. Dan Ayah bundaku tak pernah menginginkanku. Benarkah semua itu Bunda?" tanya Aini dengan nada mendesak.
Ia berharap bundanya menggeleng dan menghiburnya bahwa Dita hanya iri padanya sehingga mengucapkan kata-kata kosong itu. Ia berharap bundanya menyambar telepon di meja, menelepon Tante Giska, ibu Dita dan menegur wanita itu atas omong kosong anaknya. Tapi bundanya hanya berdiri terpaku, tak mampu berkata-kata.
"Bunda..." Aini tercekat. Debaran jantungnya semakin cepat. Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya. "Jangan katakan semua yang dikatakan Dita benar."
Dan seperti mendengar berita kematian dirinya, Aini merasa dunianya runtuh seketika bersamaan dengan anggukan pelan bundanya.
"Aku anak angkat? Jadi Bunda selama ini membohongiku? Bunda bukan bundaku???"
"Aini, dengarkan penjelasan Bunda dulu..."
"Tidak!" Aini bangkit dari kursinya dengan kemarahan yang meluap. "Jadi ayahku tidak mati dalam tugas? Jadi siapa ayahku? Siapa bundaku???"
Jane mendekat, mencoba meraih Aini. Namun gadis muda itu menepis tangannya dengan kasar.
"Maafkan Bunda, Nak..."
"Kau jahat! Kau bukan bundaku! Aku benci padamu! Kau tak tahu apa yang kurasakan ini!" sembur Aini tanpa sadar lagi apa yang dikatakannya.
Jane terhenyak, airmatanya jatuh. "Nak, maafkan Bunda. Maafkan Bunda..." Hanya kata-kata itu yang mampu diucapkannya berulang-ulang.
"Siapa orangtuaku? Aku ingin tahu!"
Jane menggeleng sedih. "Bunda pun tak tahu, Nak. Bunda pun tak diberitahu. Tapi Bunda tak akan melarangmu mencari tahu."
Dan berbekal dari nama dan alamat panti asuhan tempat dulu dirinya diambil, Aini mendatangi tempat itu. Berharap bisa menemukan jejak kedua orangtuanya. Namun sayang, pengurus panti yang lama telah meninggal dunia. Panti itu sekarang dipimpin oleh seorang wanita setengah baya bernama Ibu Tini. Menurut Ibu Tini, lima tahun yang lalu panti tersebut ditimpa musibah kebakaran dan semua dokumen mengenai anak-anak yang pernah tinggal di sana telah hangus terbakar api, yang artinya tak ada jejak sedikitpun yang tertinggal bagi Aini. Hancur sudah harapannya. Seketika itu hidupnya gelap tak bercahaya.
Karena merasa putus asa dan marah, Aini kabur dari rumah dan tinggal di rumah Anna, sahabat karibnya.
Suatu sore, bundanya muncul di sana. Aini tak mau menemuinya. Akhirnya bundanya pulang dan hanya menitipkan sebuah tas ransel pada Anna untuk diberikan pada Aini. Tas itu berisi semua perlengkapan pribadi Aini, termasuk buku diary-nya dan boneka beruang kesayangannya yang sedari kecil menemaninya. Dan juga sejumlah uang. Jane tahu anaknya pergi dari rumah tanpa membawa apapun, karena itulah ia singgah untuk memberikan barang-barang tersebut. Sebenarnya ia ingin membujuk Aini untuk pulang, namun ia pikir mungkin Aini belum memaafkannya, karena itu Jane malah menyiapkan barang-barang Aini agar Aini tetap merasa nyaman selama berada di rumah Anna.
Tapi hati Aini tidak tergerak sedikitpun ketika menerima barang-barang tersebut. Ia tak mampu melihat cinta dan perhatian bundanya. Setelah beberapa hari di rumah Anna, Aini mulai merasa bosan dan berniat pergi ke rumah omanya. Namun sejenak ia merasa ragu, bukankah omanya kini bukan omanya lagi? Apakah omanya masih mau menerimanya? Lagipula harusnya ia merasa marah juga pada omanya yang selama ini juga ikut membohonginya. Namun karena rasa rindu pada wanita tua itu semakin menggebu di hatinya, akhirnya Aini membulatkan tekad untuk pergi ke sana.
Omanya menyambutnya seperti biasa. Pelukan yang erat, ciuman yang mesra di pipi kanan dan kiri dan secangkir teh manis. Tidak ada yang berbeda. Bahkan senyum dan mata wanita itu tetap memancarkan kelembutan dan kehangatan yang sama. Hanya saja Aini menjadi sedikit canggung, tak bisa melupakan kenyataan bahwa dirinya hanyalah seorang anak angkat. Seorang asing di tengah-tengah keluarga mereka. Harusnya omanya sudah mendengar dari bundanya bahwa dirinya telah tahu tentang rahasia itu.
"Oma sudah mendengar cerita dari Bunda?" tanya Aini ragu.
Omanya mengangguk. "Oma punya cerita untukmu. Kau mau mendengarnya?"
Aini mengangguk cepat. Rasa penasaran menguasainya seketika. Akankah Oma menceritakan kisah hidupnya?
"Waktu itu bulan Desember. Bundamu mengunjungi sebuah panti asuhan dengan niat memberi sumbangan. Saat itulah bundamu melihatmu di sana. Kau masih berumur delapan bulan. Sepulang dari sana, bundamu menyatakan keinginannya pada Oma dan Opa untuk mengadopsimu. Saat itu kami menentang keinginannya."
Oma berhenti sejenak melihat reaksi Aini. Gadis itu tampak menahan napas.
"Bukan kami tidak menyukaimu, kami bahkan belum sempat melihatmu. Tapi Jane waktu itu masih berumur dua puluh lima tahun dan belum menikah. Dia memang memiliki pekerjaan yang bagus sebagai pengacara, pasti mampu membiayaimu. Namun dia belum menikah. Kami khawatir, bila suatu hari nanti Jane jatuh cinta pada seorang lelaki, apakah dia akan dapat menikah dengan status memiliki seorang anak angkat? Akankah lelaki itu menerimanya? Tapi Jane berkeras dengan keinginannya. Ia bilang ia telah jatuh cinta padamu."
Mata Aini berkaca-kaca mendengar penuturan omanya. Ada rasa sesak membuncah dalam hatinya.
"Sebulan kemudian, Jane pulang membawamu. Dia benar, kau malaikat termanis yang pernah kami lihat. Dan kami juga ikut jatuh cinta padamu."
Airmata Aini jatuh. Rasa bersalah kini mendekapnya erat. Orang-orang ini, yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya bisa mencintainya sedemikian besar?
"Dan semenjak itu, Jane tak pernah memiliki hubungan khusus dengan laki-laki. Lama kelamaan, Oma dan Opa tidak pernah menyesali hal itu lagi karena setelah melihat Jane yang menjadi seorang Ibu, betapa bahagianya dia, kami tak bisa tak ikut merasa bahagia. Dia telah menemukan hidupnya dalam dirimu."
Oma berdiri dan pindah duduk di samping Aini. Dipeluknya Aini seraya menghapus airmatanya.
"Tahukah kau kalau bundamu juga anak angkat?"
Aini terperangah tak percaya. "Anak angkat?"
Oma tersenyum dan mengangguk. Matanya memandang keluar, menerawang, seakan melihat lagi kilasan peristiwa di masa lalunya. "Dulu, setelah Oma menikah dengan kakekmu hampir lima tahun, kami tidak dikarunia seorang anakpun. Akhirnya kami memutuskan untuk mengadopsi seorang anak. Jane, bundamu. Kami menyayangi Jane seperti anak kami sendiri. Dan ketika Jane berusia dua puluh tahun, kami memutuskan untuk memberitahunya tentang jati dirinya. Awalnya bundamu terkejut, seperti juga reaksimu setelah tahu akan hal itu. Tapi setelah beberapa hari berlalu, bundamu datang berbicara pada Oma dan Opa. Kami bertanya apakah dia mau mencari orangtua aslinya? Kami bersedia membantu. Tapi bundamu menolak."
"Mengapa Bunda menolak?"
"Kata Bunda yang terpenting baginya bukan darah yang sama, tapi cinta yang ada di dalam hati kami dan hatinya." Oma mendekat,meletakkan tangannya di dada Aini. "Di sini. Cinta di dalam hati. Yang menyatukan kita semua sebagai satu keluarga."
Dan tangis Aini pun pecah. Ia teringat akan kata-kata kasar yang dilontarkannya pada bundanya beberapa hari yang lalu. Ia sungguh jahat, bundanya tak pantas menerima kata-kata itu. Bundanya tahu semua rasa yang dirasakannya karena bundanya pun sendiri pernah mengalami semua ini. Hanya saja bundanya tidak mempermasalahkan asal usulnya karena bundanya menghargai cinta yang begitu besar yang telah diberikan orangtuanya. Aini merasa malu. Malu karena tidak tahu akan pengorbanan bundanya untuknya. Malu karena lupa akan cinta bundanya untuknya. Bundanya benar, bukan darah yang terpenting. Cinta di hati lah yang terpenting. Cinta yang menyatukan mereka menjadi satu keluarga.
By Angel Li
Ada seorang anak lelaki, memiliki hati yang baik, namun memiliki suatu kelemahan, yaitu sifat amat pemarah, dan setiap kali dia marah, selalu mengucapkan kata-kata kasar. Melihat hal itu, amat sedihlah orang tuanya. Lalu berusaha dengan sejuta nasehat, namun terasa sia-sia, karena anak itu tetap saja sia-sia, pada setiap kali anak itu marah, tetap anak itu mengucapkan kata-kata kasar yang melukai.
Pada suatu hari, sang ayah menghampiri sang anak saat di belakang rumah, membawa selembar papan polos bersih, beberapa buah paku, dan sebuah palu, lalu sang ayah berkata, "Nak, setiap kali kamu marah, kamu ambillah paku ini, lalu kamu pukulkan paku ini ke papan polos ini,lampiaskanlah kemarahanmu pada papan ini, sampai marahmu reda."
Lalu anak itu melakukan seperti apa yang ayahnya katakan, setiap marah anak itu marah, dia berlari ke belakang rumah, kemudian memukul paku itu sekuat-kuatnya ke papan itu sampai kemarahannya reda.
Setelah seminggu sang ayah memanggil sang anak ke belakang rumah dan berkata kepada sang anak, "Anakku, sekarang kamu cabutkan paku-paku yang telah kamu tancapkan itu."
Lalu sang anak mencabut paku itu dan berkata kepada sang ayah, "Ayah, susah sekali paku ini dicabut."
Lalu sang ayah berkata, "Kamu merasa susah, itulah kesusahan kita untuk bisa menahan marah dan berdamai dengan orang yang telah kita marahi."
Lanjut sang ayah lagi, "Nach sekarang kamu lihat bekas yang ada khan, itulah luka-luka yang kamu timbulkan saat kamu memarahi orang itu. Setiap kemarahan, pasti akan menimbulkan luka bagi orang lain. Semakin besar kemarahan kamu, semakin dalam paku kamu tancapkan, semakin susah kamu mencabutnya, itu artinya semakin susah kamu berdamai dan semakin besar luka yang kamu tinggalkan. Nach anakku, belajarlah menahan amarah dan emosi. Diamlah pada saat marah, sehingga kemarahan tidak menimbulkan luka pada orang lain."
Fr : Franklin Filbert Irwan
TERBAIK MENURUT KITA, BELUM TENTU TERBAIK MENURUT ORANG.....
Di suatu pantai, hiduplah seekor kepiting, yang berteman akrab dengan seekor monyet.
Setiap hari si Monyet ke pantai dan mengobrol bersama si Kepiting.
Monyet selalu bercerita kepada Kepiting tentang asyiknya berada pada pohon yang tinggi sehingga bisa melihat alam yg indah, berayun-ayun sambil bermain di pohon, serta mendapatkan makanan yang enak-enak di atas pohon.
Lalu suatu hari Monyet berkata kepada Kepiting, " Kepiting, saya kasihan kepada kamu, karena kamu hanya bisa melihat air saja, dan tanah, kamu tidak pernah bisa melihat keindahan laut sesungguhnya dari atas pohon, dan menikmati makanan enak di atas sana. Bagaimana kalau hari ini saya akan bawa kamu ke atas pohon untuk menikmati alam ini"
Kepiting menjawab, "Terima kasih Monyet, tapi saya takut ketinggian, dan saya tidak bisa memanjat."
Lalu jawab sang Monyet, "Tidak apa, saya akan menggendongmu ke atas sebentar saja."
"Terima kasih Monyet, saya sudah senang dengan keadaan saya ini." tolak halus Sang Kepiting.
Namun sang Monyet terus memaksa, dan berjanji hanya sebentar saja,dan akhirnya sang Kepitingpun bersedia.
Lalu sang Monyet mengangkat Kepiting ke atas sebuah pohon kelapa yg tinggi, sehingga Kepiting dapat melihat alam lebih banyak.
Sang Monyet lalu turun dan segera mencari setandan pisang untuk dibawa ke atas pohon kelapa.
Setibanya sang Monyet di atas, kagetlah sang Monyet mendapati sang Kepiting telah berubah warna menjadi merah, dan mati karena kekeringan dan kepanasan.
Banyak hal yang kita pikir dalam melakukan kehidupan ini baik, dan kita sering memaksakan kehendak kita kepada orang lain karena merasa hal itu baik, namun akibat pemaksaan kita itu tak jarang justru apa yang kita rasa baik itu malah menimbulkan banyak masalah di dalam kehidupan ini.
Mari belajar memulai memperbaiki hidup ini dengan memikirkan secara bersama yang terbaik dan tidak memaksakan kehendak kita.
Anak-anak, sering kali pemikirannya membuat kita takjub. Pertanyaannya membuat kita bingung harus menjawab apa. Begitu pertanyaan terlontar dari mulut mungilnya, kita serasa disengat lebah. Kaget, heran, tak bisa berpikir cepat.
“Kenapa aku sipit, Bu?” Kudengar sayup-sayup suara Si Sulung dari kamar. Kupikir dia sedang asyik nonton video Pentas Seni kemarin.
“Yla ngomong sama Ibu, Nak?” Aku yang di depan komputer menghampiri ke kamar.
“Iya. Kenapa mataku sipit, Bu?”
???
Hang.
Bingung.
…
Gak cukup kata menggambarkan perasaanku saat itu. Berpikir-pikir bagaimana menjelaskannya ya? Mati aku!
Hm…
Sambil terus berpikir, aku rangkul dia.
“Begini, Tuhan menciptakan manusia itu seperti yang Tuhan suka. Tidak ada yang sama. Seperti juga binatang yang bentuknya beda-beda. Nah, kamu kan anak orang Cina. Orang Cina itu kan kulitnya putih, matanya sipit. Kalau kamu anak orang negro, kulitnya hitam, rambutnya keriting.”
“Tapi aku gak mau sipit, Bu.” Si Sulung malah sedih.
“Memangnya kalau sipit kenapa?”
“Gak mau…” matanya mulai berkaca-kaca.
“Yla, mata sipit itu bukan hal yang jelek. Mata Ibu juling, tapi Ibu gak sedih. Dulu, waktu kamu di perut, semua orang berdoa sambil elus perut Ibu terus bilang, “semoga bayinya lahir sehat dan sempurna”. Begitu kamu lahir, Om Dokter bilang, “Bu, diperiksa dulu bayinya. semua lengkap ya. Terus Ibu hitung jumlah mata, tangan, kaki, semua jari. Lengkap. Artinya, kamu lahir sempurna.”
“Tapi aku sipit…” Air matanya mulai turun.
“Yla, mata sipit itu bukan cacat. Tuhan pasti punya maksud kenapa matamu sipit. Inget Om Anton yang temennya Om Bayu? Kedua tangannya cacat. Tapi Om Anton gak sedih. Om Anton malah nyanyinya bagus sekali kan? Karena Om Anton senang diciptakan seperti itu sama Tuhan.” Anton dan Bayu yang aku maksud adalah para personil Jamaica Cafe. Aku kenal Bayu sejak jaman SMA dulu.
Air matanya mulai jadi sungai kecil. Duh, Tuhan…
“Yla, mata ayah juga sipit. Duluu… waktu kamu kecil, kata orang kamu mirip Koh Ezra. Ibu liat fotonya Ezra waktu kecil, memang mirip banget. Ada lagi yang bilang muka kamu kayak Emak. Berarti kamu memang anak Ayah, cucunya Emak.”
Aku menahan napas sejenak.
“Yakin deh, Tuhan ciptakan Yla dengan mata sipit, kulit putih, pasti ada maksudnya. Semua orang bilang Yla cantik. Biar sipit Yla cantik. Harus bersyukur karena Yla tidak punya cacat. Ya?”
Si Sulung mengangguk. Pelan sekali.
“Masih sedih?”
Si Sulung menggeleng, juga pelan.
“Besok lagi kalau kamu sedih, ingat sama Om Anton ya. Om Anton memang cacat, tapi bangga sama dirinya. Bisa nyanyi bagus sekali. Kamu senang dengerin lagu-lagunya Om Anton kan?”
Si Sulung mulai tersenyum.
“Nah gitu, Tuhan sayang sama semua orang. Pasti Tuhan punya maksud kenapa kita diciptakan lain-lain. Kalau kamu merengut terus nanti cantiknya luntur…”
Senyumnya makin lebar.
Legaaa…
Si Sulung, memang baru 6 tahun. Entah kenapa merasa minder karena matanya sipit. Karena kamu anak Ayah, Nak. Kalau kamu hitam dan keriting, jangan-jangan kamu bukan anak Ayah…
G. Lini Hanafiah