Elang tahu kapan badai akan tiba jauh sebelum berkecamuk. Ia lalu terbang ke tempat tinggi dan menunggu sampai angin tiba. Ketika badai akhirnya datang, Elang membentangkan sayapnya sehingga angin mengenainya dan mengangkatnya ke atas badai. Di saat badai berkecamuk di bawah, elang melayang di atasnya.
Elang tidak lari dari badai. Justru menggunakan badai untuk mengangkatnya lebih tinggi. Elang menunggang angin yg mendatangkan badai.
Dalam menjalani hidup ini, saat badai kehidupan melanda, dan kita semua akan mengalaminya, kita dapat naik ke atas badai dg mengarahkan pikiran dan kepercayaan kita kepada Tuhan. Kita bisa membuat badai tidak menghancurkan kita dengan membiarkan kekuatan Tuhan mengangkat kita ke atas badai.
Tuhan membuat kita dapat menunggang angin dari badai yang mendatangkan penyakit, tragedi, kegagalan dan kekecewaan di dalam hidup. Kita dapat melayang di atas badai. Selalu ingat, bukan beban kehidupan yang menekan kita ke bawah, tapi CARA kita MENANGANInya.
Jangan mau kalah dari Elang, BERDOALAH senantiasa dan sungguh2 BERUSAHA maka doamu akan DIKABULKAN... Amin..!
Kebiasaan paling merusak adalah Kuatir.
Sukacita terbesar adalah Memberi.
Kehilangan terbesar adalah Harga diri.
Pekerjaan paling memuaskan adalah Membantu org lain.
Kepribadian terburuk adalah Egois.
Species yg hampir punah adalah Pemimpin yg berdedikasi.
Sumberdaya terbesar kita adalah Generasi muda.
Energi terbesar adalah dorongan dan semangat.
Masalah terbesar unt diatasi adalah Rasa takut.
Obat tidur paling mujarab adalah Pikirgn yg damai.
Kegagalan paling melumpuhkan adalah Alasan dibuat buat.
Kekuatan terbesar didunia adalah Cinta.
Manusia paling berbahaya adalah Tukang gosip.
Komputer yg paling hebat didunia adalah pikiran manusia.
Kondisi yg paling buruk adalah tidak ada Harapan.
Senjata paling berbahaya adalah Lidah.
Aset terbesar adalah Iman.
Emosi yg paling tdk berguna adalah Rendah diri.
Harta tak ternilai adalah Integritas.
Alat komunikasi yg paling handal adalah DOA...
Tunjuk tangan siapa yang tak pernah bosan dalam hidupnya? Hampir
semua orang pernah mengalami kejenuhan. Baik kebosanan yang
sementara maupun kebosanan yang setelah berhari-hari tak kunjung
berlalu. Nah, yang ingin saya bicarakan adalah kebosanan yang "tak
bisa diusir" ini.
Pada dasarnya -menurut saya- kebosanan hanya disebabkan oleh satu
hal : "kehilangan cita". Orang kehilangan 'cita' bisa karena sudah
mapan alias telah mendapatkan mimpinya dan tak punya impian lebih
lagi atau bisa juga begitu putus asa hingga takut berharap dan
berhenti bermimpi. Akibatnya, tak mampu lagi menemukan hal menarik
dalam hidup ini, lalu kemudian kehilangan gairah dan akhirnya
merasa datar. Bosan ah!
kata Pramoedya Ananta Toer (lagi-lagi Pram yah :-)), bahwa cita
menimbulkan perjuangan. Dan perjuangan selalu berbarengan dengan
penderitaan. Karena ada cita lah maka orang ingin berjuang. Dan
penderitaan oleh cita adalah penderitaan yang membahagiakan. Jadi,
jika anda sedang bosan, mungkin anda perlu bertanya: "Apakah saya
sudah berhenti bermimpi? dan telah menjadi manusia yang kehilangan
tujuan hidup?"
Tentang tujuan hidup, semua orang tahu bahwa semua manusia inginkan
kebahagiaan. Entah itu kebahagiaan duniawi, seperti karir,
kekayaan, kekuasaan, dsb atau kebahagiaan surgawi, seperti rasa aman, damai,
keinginan memberi, mencintai, dsb. Secara naluriah, setiap orang
merasa 'sayang' menyia-nyiakan hidup yang sementara ini untuk tidak
berjuang mendapatkan apapun dari kehidupan ini. seperti kata
Goenawan Moehammad dalam salah satu catatan pinggirnya berjudul
kereta, bahwa yang "sementara" itu justru lebih menarik dari yang
abadi. Yah, seperti hidup kita di bumi ini yang -hampir setiap
orang rasa -lebih menarik daripada kehidupan sesudah kematian. Ibarat
perjalanan dalam kereta, pemandangan diluar (dari jendela) lebih
mengesankan daripada kota tujuan kereta itu sendiri. Orang-orang
dalam kereta lebih menikmati perjalanannya (yang justru bukan dalam
kereta tapi pemandangan diluar yang hanya sekelebat-lebat saja),
dan ketika akhirnya sampai di kota tujuan justru merasainya
sebagai "momen perpisahan".
Dalam "perjalanan" inilah kita seringkali dilanda kebosanan. Dan
jika ditelusuri lebih jauh, kebosanan itu sebenarnya - menurut
saya-timbul karena "ketakutan-ketakutan" dalam diri kita. Setiap orang
memiliki ketakutan-ketakutan nya sendiri. Orang kaya takut hilang
hartanya, anak kecil takut dalam kegelapan, pengusaha takut
bangkrut, gadis yang beranjak tua takut tidak mendapat jodoh
selamanya, dsb. Diakui atau tidak, ada begitu banyak "ketakutan"
dalam hidup kita. Dan orang yang kalah dengan ketakutannya inilah
yang akan menjadi orang-orang yang kehilangan harapan akan adanya
perubahan, lalu kemudian mengalami kebosanan dalam hidupnya.
Mochtar Lubis dalam romannya Jalan Tak ada Ujung, mengatakan setiap orang
harus berani hidup dengan ketakutan-ketakutan nya. Berdamai dengan
ketakutan-ketakutan kita,saya yakin merupakan sebuah upaya untuk
mengatasi kebosanan. Sebab perdamaian itu membuat kita sanggup
menerima apa yang ada di hadapan kita dan akhirnya membuat kita
sanggup menikmati hidup.Jika kita menikmati hidup ini, tentu kita
tidak layak lagi menyebut diri mengalami kebosanan.
Harapan, memegang peranan besar terhadap kebosanan kita.
Orang-orang yang kehilangan kemampuan berharap lah yang hampir pasti sering
mengalami kebosanan. Orang yang masih sanggup berharap pada
perubahan, hampir dipastikan selalu memiliki semangat perjuangan,
dan mampu menikmati penderitaan yang membahagiakan seperti yang
dikatakan Pram. Namun, untuk berharap seringkali pula kita harus
kecewa terhadap kenyataan. Jika sudah melihat kenyataan, semua
harapan bisa sirna dalam sekejap, terbanting, terpental-pental dan
kehilangan daya tawarnya dalam sanubari kita. Jika, sudah begini,
seringkali agama dijadikan candu. Yah, mau tak mau, hidup ini
terlalu berat untuk dipikul sendirian. Terkadang memang perlu
melupakan kenyataan dan berharap pada Tuhan. Kepercayaan pada Sang
Penolong seringkali mampu menumbuhkan semangat hidup kita kembali.
Dan disadari atau tidak, semangat inilah yang menjadi modal utama
kita. Jika sudah berhadapan dengan kenyataan pahit seperti itu,
Lupakan kenyataan, dan berharaplah pada Tuhan!. Kedengarannya,
tidak realistis memang. Tapi, cobalah jawab pertanyaan saya ini : "Jika
semangat saja sudah sirna dari sanubari anda, masih realistiskah
mengaharapkan perubahan?"
Sahabatku membuka laci tempat istrinya menyimpan underwear. Dia membuka bungkusan berbahan sutra "Ini, ......", dia berkata, " Bukan bungkusan yang asing lagi....."
Dia membuka kotak itu Dan memandang underwear berbahan sutra serta kotaknya. "Istriku membeli ini ketika pertama kali kami pergi ke New York, kira-kira 8 atau 9 tahun yang lalu. Dia tidak pernah mengeluarkan bungkusan ini apalagi mengenakannya. Karena menurut dia, hanya akan dia gunakan untuk kesempatan yang istimewa."
Dia melangkah ke dekat tempat tidur dan meletakkan bungkusan tersebut di dekat pakaian yang dia pakai ketika pergi ke pemakaman. Istrinya baru saja meninggal. Dia menoleh padaku dan berkata: "JANGAN PERNAH MENYIMPAN SESUATU UNTUK KESEMPATAN ISTIMEWA, KARENA SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH ISTIMEWA!"
Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya mengubah hidupku. Sekarang aku lebih banyak membaca dan mengurangi bersih-bersih. Aku duduk di sofa tanpa khawatir tentang apapun. Aku meluangkan waktu lebih banyak bersama keluargaku dan mengurangi waktu bekerjaku. Aku mengerti bahwa kehidupan seharusnya menjadi sumber pengalaman. Supaya bisa hidup, tidak semata-Mata supaya bisa survive (bertahan hidup) saja. Aku tidak berlama-lama menyimpan sesuatu.
Aku menggunakan gelas-gelas kristal kesayanganku setiap Hari. Aku akan mengenakan pakaian baru untuk pergi ke Supermarket, jika aku menyukainya. Aku tidak akan menyimpan parfum specialku untuk kesempatan istimewa, aku menggunakannya kemana pun aku menginginkannya.
Kata-kata "Suatu Hari ....." Dan "Suatu saat nanti....." sudah lenyap dari kamusku. Jika dengan melihat, mendengar dan melakukan sesuatu ternyata bisa menjadi berharga, aku ingin melihat, mendengar atau
melakukannya sekarang. Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh istri temanku itu apabila dia tahu dia tidak akan ada di sana pagi berikutnya. Ini yang tak seorangpun mampu mengatakannya.
Aku berpikir, jika mungkin dia tahu, malam sebelumnya dia pasti sedang mengenakan underwear kesayangannya itu. Atau sehari sebulumnya dia akan menelepon rekan-rekannya serta sahabat terdekatnya. Barangkali juga dia akan menelpon teman lama untuk berdamai atas perselisihan yang pernah mereka lakukan. Mungkin dia akan pergi makan martabak spesial, makanan favoritnya bersama suaminya. Semua ini adalah hal-hal kecil yang mungkin akan kita sesali jika tak sempat kita lakukan. Kita akan menyesalinya, karena Kita tidak akan lebih lama lagi melihat orang-orang yang Kita sayangi.
Aku teringat orang-orang yang aku kasihi. Aku akan menyesal dan merasa sedih, jika aku tidak sempat mengatakan betapa aku sangat mencintai mereka. Sekarang, aku akan mencoba untuk tidak menunda
atau menyimpan apapun yang bisa membuatku tertawa dan bisa membuatku menikmati hidup. Dan setiap pagi, aku akan berkata kepada diriku sendiri bahwa hari ini adalah hari yang istimewa bagiku. Setiap Hari, setiap jam, setiap menit, adalah istimewa.
Apabila kamu mendapatkan pesan ini, itu karena seseorang peduli padamu dan mungkin karena ada seseorang yang seharusnya kamu pedulikan. Jika kamu terlalu sibuk untuk membagikan pesan ini kepada orang lain dan kamu berkata kepada dirimu sendiri bahwa kamu akan mengirimkannya "suatu saat nanti....." Ingatlah bahwa " suatu saat nanti" itu sangat jauh. Dan mungkin tidak akan pernah datang padamu.....
Alkisah Tuhan menciptakan manusia dengan jatah umur 20 tahun. Tapi binatang-binatang rata-rata 40 tahun. Itu karena Tuhan ingin manusia bahagia saja sepenuhnya dan tidak usah merasakan pahitnya dunia terlalu lama. Manusia ini pun diletakkan Tuhan didekatNya.
Ternyata, beberapa binatang merasa iri dan ingin seperti manusia. Datanglah Sapi, "Tuhan terlalu lama 40 tahun bagiku, kukembalikan 20 tahun". Mendengar itu ... manusia yang merasakan kebahagiaan ... ingin lebih panjang kebahagiannya .... dimintanya yang 20 tahun dari sapi untuk dirinya. Tuhan mengabulkan.
Lalu datanglah Anjing. Dia juga mengembalikan yang 20 tahun ... maka sekali lagi manusia memintanya.
Terakhir monyet datang. Dia juga mengembalikan 20 tahun umurnya .... dan sekali lagi manusia memintanya.
Maka jadilah yang diminta manusia itu :
20 tahun pertama hidup sebagai manusia, berbahagia, gak banyak masalahnya
20 tahun kedua hiduplah manusia itu seperti sapi ... bangun pagi pulang malam, kerja keras, banting tulang .... hasil ... hmmm terbatas (7 p) PERGI PAGI PULANG PETANG PENGHASILAN PAS-PASAN)
20 tahun ketiga jadilah dia seperti anjing. Anak mulai gede ... kerjanya jaga anak, jaga kekayaan, jaga properti .... persis kaya anjing
20 tahun keempat jadilah dia seperti monyet. Tua renta, hanya jadi bahan lelucon yang lebih muda ...
Maka
kalau anda ingin terus jadi manusia sampai akhir hayat ingatlah
kata-kata ini : "BUKAN MASALAH PANJANGNYA UMUR, TETAPI MASALAH MEMBERI
MAKNA DALAM TIAP HARI KEHIDUPAN" atau juga iklan dari AMild beberapa
tahun lalu : "MENJADI TUA ITU PASTI, DEWASA ITU PILIHAN".